Wednesday, April 16, 2014

Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Head Together (NHT) dengan Pendekatan Berbasis Masalah terhadap Kemampuan Siswa dalam Pemecahan Masalah Matematika

September 23, 2009  

Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Head Together (NHT) dengan Pendekatan Berbasis Masalah terhadap Kemampuan Siswa dalam Pemecahan Masalah Matematika

Oleh: Irma Nurmala

Masalah dalam penelitian ini adalah rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Sebagai alternatif untuk menyelesaikan masalah tersebut, dalam penelitian ini akan digunakan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) dengan pendekatan berbasis masalah. Adapun rumusan masalah yang akan dikaji adalah: (1) bagaimana kemampuan pemecahan masalah matematika antara siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan pendekatan berbasis masalah dengan siswa yang diberi pembelajaran dengan pendekatan berbasis masalah; (2) bagaimana kualitas peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika antara siswa yang belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan pendekatan berbasis masalah dengan siswa yang diberi pembelajaran dengan pendekatan berbasis masalah; (3) bagaimanakah kekohesivan siswa dalam kelompoknya setelah diberikan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan pendekatan berbasis masalah. Penelitian ini beertujuan untuk melihat pengaruh model pembelajarn kooperatif tipe NHT dengan pendekatan berbasis masalah terhadap kemampuan siswa dalam pemecahan masalah matematika. Desain penelitian yang digunakan two-group pre test post test design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMPN 29 Bandung tahun ajaran 2007/2008. Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa diukur melalui tes kemampuan pemecahan masalah, dan untuk mengukur kohesivitas siswa digunakan skala Likert. Sedangkan untuk melihat kualitas peningkatan yang diperoleh oleh kedua kelompok dilakukan pengujian pada indeks gain. Hasil penelitian diperoleh bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika antara kelompok yang diberi pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan pendekatan berbasis masalah lebih baik daripada siswa yang diberi pembelajaran berbasis masalah. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan pendekatan berbasis terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar guru dalam mengajarkan pemecahan masalah matematika menggunakan model kooperatif tipe Number Head Together (NHT) dengan pendekatan berbasis masalah.

Kata kunci: NHT berbasis masalah; pendekatan berbasis masalah; kemampuan pemecahan masalah matematika.

A. LATAR BELAKANG

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), tujuan yang ingin dicapai melalui pembelajaran matematika di jenjang SMP adalah: (1) memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah; (2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; (3) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; (4) mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, dan (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah (Depdiknas, 2006:346). Berdasarkan tujuan tersebut tampak bahwa arah atau orientasi pembelajaran matematika adalah kemampuan pemecahan masalah matematika. Kemampuan ini sangat berguna bagi siswa pada saat mendalami matematika maupun dalam kehidupan sehari-hari, bukan saja bagi mereka yang mendalami matematika, tetapi juga yang akan menerapkannya baik dalam bidang lain (Ruseffendi, dalam Nurardiyati, 2006:2).

Kenyataan menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematik masih rendah. Hasil penelitian yang dilakukan Utari (Nurardiyati, 2006:3) terhadap siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota Bandung, secara umum kemampuan pemecahan masalah siswa kelas XI masih belum memuaskan sekitar 30% – 50% dari skor ideal. Begitu juga hasil penelitian Animan (Zamzamudin, 2006:2) menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam mengubah soal matematika berbentuk soal cerita ke bentuk kalimat matematika tergolong rendah, yaitu dengan rata-rata 44,67%. Sedangkan hasil penelitian, Loviana (Zamzamudin, 2006:2) mengungkapkan bahwa persentase kesalahan sistematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita masih sangat tinggi yaitu 90,48%.

Rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematika ini boleh jadi ada kaitannya dengan pendekatan pembelajaran yang dilakukan guru. Hasil penjajakan yang dilakukan Slamet (2006:13) menunjukkan bahwa umumnya proses pembelajaran matematika yang ditemuinya masih dilakukan secara konvensional, drill, bahkan ceramah. Proses pembelajaran seperti ini hanya menekankan pada tuntutan pencapaian kurikulum ketimbang mengembangkan kemampuan belajar siswa. Oleh sebab itu, perlu dicari model maupun pendekatan pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika.

Salah satu pendekatan pembelajaran yang diprediksikan mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa adalah model pembelajaran kooperatif, khususnya tipe NHT. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Model pembelajaran kooperatif merupakan sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur, yakni saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerjasama dan proses kelompok di mana siswa menghabiskan sebagian besar waktunya di kelas dengan bekerjasama antara 4-6 orang daam satu kelompok, serta menerima pengakuan, reward berdasarkan kinerja akademis kelompoknya (Lie, 2007:18; Slavin, 1983:3; Johnson & Johnson, Holubec, 1994:4). Dengan model ini diharapkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dapat ditingkatkan.

B. TINJAUAN PUSTAKA

Dalam pembelajaran matematika, masalah adalah situasi disadari seseorang dan mendorongnya untuk menyelesaikannya, terlepas apakah akhirnya ia sampai atau tidak kepada jawaban masalah itu. (Israk’atun, 2006:33; Ruseffendi, dalam Nurardiyati, 2006:11). Dijelaskan oleh Hudoyo (1988) bahwa dalam matematika terdapat dua masalah yaitu masalah untuk “menemukan”, berupa teoretis atau praktis; abstrak atau konkrit; dan masalah untuk “membuktikan” yaitu untuk menunjukkan bahwa suatu pernyataan itu benar atau salah. Masalah menemukan lebih penting dalam matematika elementer, sedangkan masalah untuk membuktikan lebih penting dalam matematika lanjut. Untuk trampil memecahkan masalah matematkka, Polya (Suherman, dkk: 2003:91) mensyaratkan empat langkah (fase) penyelesaian yang harus dilakukan, yaitu memahami masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah sesuai rencana, dan melakukan pengecekan kembali terhadap semua langkah yang telah dikerjakan.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman soal kepada siswa, kemudian melatih siswa memilih pendekatan atau strategi pemecahan masalah yang tepat, meningkatkan kemampuan operasi hitung di kalangan siswa serta meningkatkan kemampuan siswa dalam menafsirkan solusi yang dibuat untuk pemecahan masalah tersebut.

Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang menekankan dan mendorong kerjasama antar siswa dalam mempelajari sesuatu (Woolfolk & Nicolich, 1984). Hasil-hasil penelitian mengenai efek pembelajaran kooperatif umumnya menunjukkan temuan yang positif. Reviu yang dilakukan Slavin (1983) terhadap 68 penelitian mengenai pembelajaran kooperatif menunjukkan 72% siswa memiliki hasil belajar yang lebih tinggi dibanding dengan kelompok kontrol dalam penelitian tersebut. Menurutnya, tingginya hasil tersebut dimungkinkan karena adanya iklim saling mendorong untuk sukses dalam kelompok. Dengan bekerja secara kolaboratif untuk mencapai tujuan bersama, siswa dapat mengembangkan keterampilan berhubungan dengan sesamanya yang sangat bermanfaat bagi kehidupan di luar sekolah.

Dalam pembelajaran kooperatif terdapat sejumlah teknik atau tipe, yang salah satu di antaranya dapat digunakan dalam pembelajaran. Salah satu dari tipe pembelajaran kooperatif itu adalah Number Head Together (NHT). Tipe ini merupakan salah satu dari banyak tipe atau variasi pembelajaran kooperatif. Karena NHT hanya salah satu variasi atau tipe pembelajaran kooperatif, maka semua prinsip dasar pembelajaran kooperatif melekat pada tipe ini. Ini berarti dalam NHT ada saling ketergantungan positif antar siswa, ada tanggung jawab perseorangan, serta ada komunikasi antar anggota kelompok. Pelibatan siswa secara kolaborarif dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama ini memungkinkan NHT dapat meningkatkan hasil belajar matematika khususnya dalam pemecahan masalah matematika.

Meskipun NHT memberikan peluang bagi keberhasilan pembelajaran matematika, khususnya pada pemecahan masalah matematika, patut juga dipertimbangkan untuk memadukannya dengan pendekatan berbasis masalah. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa yang dianut oleh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berdasarkan Permendiknas 22 Tahun 2006 (Anonim, 2006:345) untuk mata pelajaran matematika di jenjang SMP/M.Ts adalah pendekatan pemecahan masalah. Pendekatan pemecahan masalah inilah yang menjadi fokus pembelajaran matematika di jenjang SMP/M.Ts sesuai dengan KTSP.

Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inquiri dan kemampuan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri (Arends, dalam Trianto, 2007:68). Pembelajaran seperti ini dapat menjadi pendekatan yang efektif untuk pembelajaran proses berpikir tingkat tinggi seperti kemampuan pemecahan masalah matematika. Dalam pembelajaran ini, siswa dibantu memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusunnya menjadi pengetahuan mereka sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Darnati, E.T. (2001). Upaya Peningkatan Aktivitas Belajar Melalui Pendekatan Problem Posing pada Pembelajaran Matematika. Buletin Pelangi Pendidikan Volume 4 No. 1 Tahun 2001 Halaman 4-8.

Depdiknas. (2006). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta: Depdiknas.

Hudoyo, H. (1983). Teori Belajar untuk Pengajaran Matematika. Jakarta: Depdikbud.

Isrok’Atun. (2006). “Pembelajaran Matematika dengan Strategi Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah dan komunikasi Siswa SMA.” Tesis PPS UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Johnson, D.W. & Johnson, F.P. (1991). Joining Together Group Theory and Group Skills. Englewood Cliffs, New Jersey: Printice-Hall Inc.

Johnson, D.W., Johnson, R.T., & Holubec, E.J. (1994). Cooperative Learning in the Classroom. Alexandria, Virginia: ASCD.

Lie, A. (2007). Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning Di Ruang-ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.

Nurardiyati, Y. (2006). “Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Teknik SQ4R dalam Kelompok Kecil sebagai Upaya untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa SMP”. Skripsi FPMIPA UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Ornstein, Allan C., & Levine, Daniel U. (1984). An Introduction to the Foundations of Education Third Edition. Boston: Houghton Mifflin Company.

Ruseffendi, E.T. (1980). Pengantar Matematika Modern. Bandung: Tarsito.

Sanjaya, W. (2006). Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Slavin, R.E. (1983). Cooperative Learning (Research on Teaching Monograph Series). Broadway, New York Longman, Inc.

Suherman, E, dkk. (2003). Evaluasi Pembelajaran Matematika. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI.

Suryanto. (1984). Usaha Pengembangan Pendidikan Matematika di Indonesia. Pidato Dies IKIP Yogyakarta. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.

Trianto. (2007). Model-model Pembelajaran inovatif Berorientasi konsruktivistik. Jakarta: Prestasi pustaka.

Woolfolk, Anita E., & Lorraine McCune-Nicolich. (1984). Educational Psychology for Teachers. Second Edition. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Zamzamudin. (2006). ”Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Think-Pair-Share dalam Menyelesaikan Soal Cerita pada Materi Perbandingan di Kelas VII MTs Negeri Pontianak”. Skripsi FKIP Universitas Tanjung pura: Tidak diterbitkan.

Jurusan Pendidikan Matematika UPI. Copy Protected by 4 Sehat 5 Sempurna Administrator